HIPJI · RILIS ORGANISASI
Penelaahan sejawat perlu menghasilkan masukan yang membantu editor menilai kelayakan naskah dan membantu penulis memperbaiki karya.
Peer Review Jurnal Ilmiah Perlu Menyentuh Substansi
Himpunan Penerbit Ilmiah Indonesia (HIPJI) menekankan pentingnya proses penelaahan sejawat atau peer review yang substantif dan terdokumentasi. Penguatan proses ini menjadi bagian dari upaya membangun tata kelola jurnal yang lebih profesional dan dapat dipertanggungjawabkan.
HIPJI mengusulkan agar hasil telaah menunjukkan persoalan yang ditemukan, alasan penilaian, dan saran perbaikan yang relevan. Komentar mengenai bahasa atau format dapat membantu penyajian, tetapi penilaian ilmiah juga perlu memperhatikan kesesuaian metode, kekuatan bukti, dan hubungan antara hasil dengan kesimpulan.
“Peer review perlu menghasilkan penilaian yang dapat digunakan editor dan ditindaklanjuti penulis. Kami ingin penguatan kompetensi reviewer berjalan bersama dokumentasi yang tertib, sehingga keputusan editorial memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.”
Andri Putra Kesmawan, Ketua Umum HIPJI
Editor dan Reviewer Memiliki Tanggung Jawab yang Saling Melengkapi
Reviewer memberikan penilaian sesuai bidang keahliannya, sedangkan editor mengelola proses dan mengambil keputusan berdasarkan keseluruhan informasi yang tersedia. Laporan telaah yang terlalu umum perlu ditinjau kembali agar editor memperoleh dasar keputusan yang memadai.
HIPJI mengusulkan agar formulir penelaahan membantu reviewer memberi komentar terarah tanpa membatasi pertimbangan ilmiah. Pertanyaan dalam formulir dapat mencakup kejelasan masalah penelitian, ketepatan metode, kecukupan pelaporan, serta batasan interpretasi.
HIPJI mendorong jurnal menjelaskan proses peer review dan pengambilan keputusan pada situsnya. Kebijakan tertulis tersebut perlu tercermin dalam praktik editorial.
Dokumentasi Menjaga Akuntabilitas dan Kerahasiaan
Sebagai usulan praktik kerja, HIPJI mendorong penyimpanan versi naskah, laporan telaah, tanggapan penulis, dan alasan keputusan editorial secara tertib. Rekam proses ini membantu tim menelusuri bagaimana masukan dipertimbangkan sebelum sebuah artikel diterbitkan.
Dokumentasi tidak berarti membuka seluruh informasi kepada publik. Akses perlu disesuaikan dengan kebijakan jurnal, kerahasiaan naskah, model penelaahan, dan perlindungan informasi pihak yang terlibat.
Tim editorial juga perlu memiliki cara menangani konflik kepentingan, keterlambatan laporan, serta keberatan penulis. Tujuannya agar masalah dapat diselesaikan melalui prosedur yang jelas.
Pengembangan Kompetensi Reviewer Perlu Berkelanjutan
HIPJI mengusulkan pengembangan kapasitas melalui pembahasan contoh laporan telaah, pendampingan reviewer baru, dan evaluasi mutu masukan. Kegiatan tersebut dapat dirancang sesuai bidang ilmu dan kebutuhan masing-masing jurnal.
Informasi sertifikasi Penelaah Artikel Jurnal Ilmiah tersedia melalui LSP PII. Asesmen kompetensi dapat menjadi salah satu bagian pengembangan profesional, dengan tetap menempatkan evaluasi praktik kerja sebagai kegiatan berkelanjutan.
HIPJI mengajak pengelola jurnal menilai keberhasilan peer review melalui manfaatnya bagi mutu naskah dan ketepatan keputusan, serta menghindari penggunaan kecepatan proses sebagai satu-satunya ukuran kinerja.