Persoalan yang Masih Berulang dalam Ekosistem Penerbitan Ilmiah Indonesia
Sebuah refleksi atas layanan ISSN, GARUDA, SINTA, ARJUNA, proses akreditasi jurnal, serta kebutuhan pembinaan sumber daya manusia penerbitan ilmiah secara lebih sistematis.
Dalam hampir 10 tahun terakhir, saya terlibat dalam ekosistem penerbitan ilmiah Indonesia, baik dari luar maupun dari dalam sistem. Saya pernah menjadi Asesor Akreditasi Jurnal pada periode 2017–2020. Dalam rentang waktu tersebut, tentu banyak perkembangan yang terjadi: sistem berubah, platform diperbarui, regulasi berganti, dan jumlah publikasi ilmiah terus bertumbuh.
Namun di sisi lain, ada sejumlah persoalan mendasar yang hingga hari ini masih berulang dan dirasakan oleh para pelaku penerbitan ilmiah. Persoalan tersebut perlu dibicarakan secara terbuka, objektif, dan konstruktif agar perubahan sistem tidak hanya terjadi pada platform, tetapi juga pada kualitas layanan dan pengalaman para penggunanya.
Pengurusan ISSN dan Kepastian Prosedur
Salah satu keluhan yang cukup sering disampaikan anggota HIPJI adalah proses pengusulan ISSN yang membutuhkan waktu cukup panjang. Pada saat yang sama, pemahaman terhadap persyaratan dan ketentuan di lapangan terkadang dirasakan berbeda antara satu pengusul dengan pengusul lainnya.
Apakah setiap perubahan ketentuan telah dituangkan dalam regulasi atau pedoman yang mudah diakses publik?
Apakah perubahan tersebut telah disosialisasikan secara memadai kepada para penerbit?
Apakah tersedia ruang konsultasi publik yang terbuka dan berkelanjutan?
Kepastian prosedur menjadi penting, bukan hanya bagi pengusul, tetapi juga untuk menjaga kredibilitas, konsistensi, dan transparansi layanan publik.
GARUDA dan Transparansi Pemutakhiran Data
Persoalan lain adalah pemutakhiran artikel dan metadata pada GARUDA. Tidak jarang artikel yang telah diterbitkan belum segera tampil atau belum terbarui, sehingga pengelola jurnal perlu terlebih dahulu menghubungi pengelola GARUDA untuk meminta tindak lanjut.
Mekanisme penyelesaian aduan juga masih perlu diperkuat. Pengguna membutuhkan sistem yang lebih transparan: aduan sudah sampai pada tahap apa, siapa yang menangani, dan berapa lama estimasi proses penyelesaiannya.
Sistem layanan yang baik seharusnya tidak hanya menerima aduan, tetapi juga memungkinkan pengguna mengetahui perkembangan penyelesaiannya.
SINTA dan Akurasi Informasi Jurnal
Pada SINTA, persoalan yang sering ditemui antara lain artikel yang belum diperbarui serta histori status akreditasi jurnal yang belum mencerminkan kondisi terbaru.
Bagi jurnal, informasi tersebut bukan sekadar data administratif. Status dan histori akreditasi berkaitan langsung dengan reputasi jurnal, evaluasi kelembagaan, rekam jejak pengelola, serta berbagai kebutuhan akademik lainnya.
Karena itu, akurasi dan kecepatan pemutakhiran data seharusnya menjadi bagian penting dari tata kelola sistem.
ARJUNA dan Proses Akreditasi Jurnal
Dalam proses akreditasi melalui ARJUNA, pengelola jurnal juga masih menemukan hal-hal yang menimbulkan pertanyaan. Ada catatan penilaian yang terasa sangat umum atau menyerupai template.
Dalam beberapa kasus, bahkan ditemukan nama jurnal yang tercantum dalam kolom komentar tidak sesuai dengan jurnal yang sedang dinilai.
Persoalannya bukan semata-mata mengenai hasil akreditasi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana proses penilaian mampu memberikan umpan balik yang substantif kepada pengelola jurnal.
Akreditasi seharusnya tidak berhenti pada pemberian peringkat. Ia semestinya menjadi instrumen peningkatan mutu yang membantu pengelola jurnal memahami apa yang perlu diperbaiki dan dikembangkan.
Siapa yang Membina SDM Penerbitan Ilmiah?
Ada satu persoalan lain yang menurut saya jauh lebih mendasar.
Jika jurnal ilmiah sebagai lembaga atau institusi dibina melalui kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, salah satunya melalui sistem akreditasi jurnal ilmiah, lalu siapa yang secara sistematis membina sumber daya manusia di dalam ekosistem penerbitan ilmiah?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika kita berbicara mengenai penerbit jurnal yang berasal dari badan usaha dan organisasi non-perguruan tinggi: perusahaan, CV, yayasan, perkumpulan, hingga perseroan perorangan.
Ekosistem penerbitan ilmiah Indonesia hari ini sudah jauh lebih luas daripada sekadar jurnal yang berada di bawah perguruan tinggi. Karena itu, kebijakan pengembangannya juga perlu melihat keseluruhan ekosistem.
Membawa Persoalan ke Ruang Diskusi yang Terbuka
Berbagai persoalan tersebut perlu dibicarakan secara terbuka, objektif, dan konstruktif. Bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk mengetahui bagian mana dari ekosistem yang perlu diperbaiki bersama.
Dalam Indonesia Scholarly Publishing Summit (ISPS) 2026, kami ingin membawa persoalan-persoalan tersebut ke ruang diskusi yang lebih terbuka.
Kita akan merangkum berbagai temuan dan pengalaman para pelaku penerbitan ilmiah, sekaligus mendengarkan perspektif dari para pemangku kebijakan dan institusi yang mengelola layanan-layanan tersebut.
Dan tentu, kami berharap para pemangku kebijakan hadir. Sebab mereka perlu mendengar langsung pengalaman para pengelola jurnal, penerbit, editor, reviewer, dan tenaga profesional yang setiap hari berhadapan dengan sistem tersebut.
Pada saat yang sama, kita juga perlu memberikan ruang kepada para pemangku kebijakan untuk menjelaskan kebijakan, keterbatasan, tantangan, serta rencana perbaikannya. Dialog dua arah semacam ini jauh lebih sehat dibandingkan ketika masing-masing pihak hanya berbicara dari ruangnya sendiri.
“Kritik yang baik seharusnya tidak berhenti pada keluhan. Kritik harus menjadi pintu masuk menuju perbaikan sistem.”
Jangan Lewatkan Diskusi Ini di ISPS 2026
Mari hadir, menyampaikan pengalaman, mendengarkan perspektif para pemangku kepentingan, dan bersama-sama merumuskan langkah perbaikan bagi ekosistem penerbitan ilmiah Indonesia.
Daftar Indonesia Scholarly Publishing Summit 2026